Bandara Yogya Tidak Mendukung Pariwisata

KEMAJUAN sektor pariwisata di wilayah Yogyakarta sangat tergantung pada daya dukung transportasi udaranya. Persoalannya, saat ini Bandara Adistujipto Yogyakarta masih sangat terbatas dalam kapasitas penumpang dan waktu operasionalnya, sehingga tak mampu mendukung industri pariwisata secara maksimal.
Menurut Ketua Asosiasi Tour dan Travel Indonesia (ASITA) Daerah Istimewa Yogyakarta, Edwin Ismedi Himna seperti yang dikutip dari tempo.co mengatakan padahal, di satu sisi, pertumbuhan industri hotel dan penginapan di Yogyakarta tiap tahun terus meningkat. Pada 2015 diprediksi hunian yang ada mencapai kapasitas 8.000 kamar. Ini tak sebanding dengan kondisi bandara saat ini.
“Kapasitas bandara Yogyakarta dinilai tak layak lagi menampung kedatangan wisatawan yang semakin meningkat itu. Pelaku industri wisata Yogya juga mengaku bingung dengan rencana pemerintah terkait dengan pemindahan bandara yang ada di wilayah Kabupaten Sleman ke Kabupayen Kulonprogo. Rencana itu masih teka-teki buat kami, sebenarnya jadi atau tidak,” katanya.
Dikatakan, karena tak juga jelas, pelaku wisata mendesak dipakai opsi alternatif seperti membuka jalur penerbangan malam hari agar mampu meningkatkan hunian kamar di hotel ataupun penginapan.
“Hal itu dianggap paling realistis. Sebab apabila ke depan akses penerbangan masih dibuka hanya pagi hari, tak akan berefek optimal pada industri wisata. Kecenderungan agen travel saat ini hanya mengirim wisatawan ke Yogyakarta pagi hari. Sorenya wisatawan langsung terbang ke Bali. Jadi kami tak dapat apa-apa. Mereka hanya beli karcis parkir saja di sini. Jadi jalur malam itu sangat perlu dicoba,” ujarnya.
Sementara Kepala Dinas Pariwisata DI Yogyakarta M. Tazbir mengakui bahwa daya dukung Bandara Adisutjipto saat ini masih terbatas dengan operasional dan kapasitasnya. Tazbir juga menyebut sebagai bandara bertaraf internasional, fasilitas Adisucipto seperti di bagian kedatangan internasional sangat tidak layak bahkan cenderung memalukan.
“Orang antre kepanasan dan kedinginan di luar. Kalau ada dua penerbangan datang bersamaan dari Singapura sudah tidak mampu kita. Pihak Dispar meminta agar Bandara segera direnovasi, berupa perluasan ruangan untuk menampung orang yang berangkat dan datang. Untuk sementara penting segera menginventarisasi berapa airline yang nantinya bisa terbang malam,” ungkapnya.
Ditambahkannya, kondisi infrastruktur bandara memang belum mendukung pengembangan industri pariwisata di Yogyakarta. [photo traveltext]




Add new comment