You are here

Pacu Jumlah Pilot, Pemerintah Bangun Sekolah Penerbangan

PEMERINTAH dan sejumlah perusahaan penerbangan swasta lokal giat menambah tenaga pilot dengan mendirikan sekolah penerbangan maupun memberi beasiswa kepada pelajarnya. Hal ini karena industry penerbangan dalam negeri kekurangan tenaga penerbang lokal sebanyak 480 per tahun atau 2.400 dalam 5 tahun ke depan.

Menurut Vice President Aero Flyer Institute (AFI) Andie Kurniawan seperti yang dikutip dari bisnis.com mengatakan dunia penerbangan Indonesia berkembang sangat pesat, namun perkembangan dunia penerbangan di Indonesia masih belum diimbangi dengan jumlah penerbang yang ada sekarang.

“Itulah sebabnya dalam waktu dekat, PT Metro Batavia (Batavia Air) sebagai induk perusahaan sedang mempersiapkan kembali pemberian kesempatan beasiswa kepada masyarakat untuk sekolah di AFI. Rencananya pendaftaran dibuka pada Febuari-Maret 2012,” ujarnya.

Dikatakan, beasiswa ini diharapkan dapat meringankan biaya pendidikan para calon penerbang. Menurut data Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Perhubungan mencatat biaya pendidikan tenaga penerbang untuk tingkat dasar, saat ini mencapai US$50.000 atau di atas Rp400 juta-an. Nilai itu belum termasuk biaya lanjutan sesuai dengan teknologi pesawat. Misalnya, untuk membawa pesawat jenis Airbus, seorang pilot harus dilatih pada pesawat jenis itu.

Sementara Kepala BPSDM Kementerian Perhubungan Bobby R. Mamahit mengatakan produksi pilot merupakan kebutuhan mendesak yang harus direalisasikan. Dengan demikian pihaknya tengah melakukan persiapan pendirian sekolah penerbangan berstandar internasional di Papua.

“Tidak bisa ditunda lagi pembangunan sekolah penerbangan baru, ini kebutuhan mendesak karena sekarang  banyak maskapai penerbangan yang kesulitan mendapatkan pilot dari dalam negeri, sehingga dengan terpaksa mereka menggunakan pilot asing,” kata Bobby.

Begitu pula PT ASI Pudjiastuti, operator maskapai penerbangan Susi Air, berencana membangun sekolah penerbang di Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat. Sekolah tersebut akan beroperasi tahun depan. Pemilik Susi Air, Susi Pudjiastuti mengatakan pihaknya sedang menunggu izin dari Kementerian Perhubungan.

“Kalau izinnya turun akhir tahun ini, sekolah sudah beroperasi pada awal 2012. Untuk membangun sekolah penerbang tersebut, Susi Air berinvestasi US$60 juta. Dana tersebut untuk investasi lima unit simulator pesawat  dengan total investasi US$50 juta, sedangkan sisanya untuk membangun gedung dan investasi lainnya.Targetnya kami bisa memproduksi pilot antara 20-40 orang per tahun,” jelasnya.

Ditambahkannya, sekolah tersebut, untuk memenuhi kebutuhan penerbang Susi Air yang terus bertambah. Hingga 2013 saja, maskapai carter ini butuh 150 penerbang, seiring dengan berdatangannya 33 unit pesawat, tentunya tidak bisa mengandalkan pilot lokal karena persediaan sangat terbatas.

“Sejak reformasi, sekolah penerbang pada tutup selama sepuluh tahunan. Baru saat ini ada sekolah-sekolah penerbang dan lulusannya sangat terbatas sehingga kita sulit merekrutnya. Diharapkan dengan dibangunnya sekolah penerbang tersebut, bisa mencetak penerbang asal Indonesia terutama dari daerah setempat,” kata Susi.

Akibat kesulitan mendapat pilot lokal, hingga kini Susi Air mempekerjakan sebanyak 179 orang pilot. Sebagian besar pilotnya adalah warga negara asing (WNA). Susi mengatakan dari 179 pilot yang dipekerjakan, hanya sebanyak empat pilot WNI. Sisanya sebanyak 175 orang kami datangkan dari negara-negara di seluruh dunia.

Bukan hanya Susi Air yang mempekerjakan banyak pilot asing, maskapai Lion Air juga mempekerjakan 150 pilot asing dari total pilot yang dimiliki maskapai ini sebanyak 570 orang. Maskapai penerbangan Garuda Indonesia juga memiliki pilot asing berstatus kontrak sebanyak 43 orang, sedangkan pilot lokal 700 orang dan pilot lokal berstatus kontrak 100 orang.

BPSDM Kemenhub mencatat industri penerbangan nasional kekurangan 480 tenaga pilot per tahun, karena sekolah penerbangan milik pemerintah dan swasta hanya mampu mencetak 320 pilot atau 40% dari total kebutuhan per tahun sebanyak 800 orang.

Diperkirakan kebutuhan pilot sepanjang 2011-2015 mencapai 4.000 orang atau 800 orang per tahun. “Namun, kemampuan pasok pilot dari sekolah penerbang di Tanah Air baru mencapai 320 orang per tahun atau 1.600 orang sampai 2015, dengan kata lain, masih terjadi defisit kebutuhan pilot sebanyak 2.400 orang hingga 4 tahun ke depan.

Kewajiban pengoperasian pesawat minimal 10 unit bagi maskapai berjadwal dalam UU No. 1 tenun 2009 tentang Penerbangan per 12 Januari 2012 akan mendongkrak kebutuhan pilot. Atas dasar itu, hingga 2015 diprediksikan kebutuhan pilot secara nasional mencapai 4.000 orang.

Adapun sekolah penerbang swasta di Indonesia tercatat ada lima yaitu satu di Bali milik  mantan dirut Garuda Roby Johan, satu di Bengkulu milik Sriwijaya Air, satu milik Lion Air dan satu milik swasta di Curug Tangerang. Di STPI Curug, milik pemerintah, bahkan ada swasta yang numpang dan mereka pakai semua fasilitas STPI Curug.  [photo istimewa]

Add new comment