You are here

Batiktok, Craft Bambu Batik Batok Khas Nusantara

JAM adalah penanda waktu, berbagai macam desain unik mulai dari kartun, klub olahraga, dan ikon lainnya disajikan dengan warna yang bermacam-macam. Keunikan ini menarik beberapa mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB).

Bermula dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), lima mahasiswa kreatif ini meneruskan menjadi sesuatu karya yang memiliki nilai jual dan membawa rasa khas Indonesia. Melaju sampai semi final, hasilnya dijadikan modal usaha untuk meneruskan proyek PKM.

Dengan menambah satu personil, Vallin Tsarina, Robbi Zidna, Erwan Machmuddin, Ramadhani Pratama, Sarah Sofia, dan Manggala Djuanda menawarkan kerajinan khas yang terbuat dari bahan-bahan material sederhana dengan filosofi budaya yaitu Batiktok Indonesia.

“Batiktok itu sebenarnya bambu batik batok. Berangkat dari ketertarikan masing-masing anggota,seperti Robbi pada bambu, Vallin pada batik dan barang-barang bekas dan tugas kuliah Erwan yang terbuat dari batok, kemudian diaplikasikan dan didesain pada kerajinan jam yang terbuat dari material sederhana yaitu batok kelapa, kayu sisa peti kemas dengan motif batik yang mengandung arti filosofis,” ujar Vallin.

Dikatakan, batoknya yang dipilih yang bentuknya setengah dome dan masih utuh, kayu peti kemas itu yang kita pakai untuk ukiran batiknya, kayu untuk ukiran filosofi batiknya juga di bagian belakang. Pemilihan batoknya sendiri, biasanya diperoleh dari hasil ‘nangkring’ di tukang jual kelapa di pasar, untuk memilih batok yang bisa dipakai bisa sampai 2-4 jam.

Riset sederhana dilakukan untuk mengetahui harga craft mulai dari kelas bawah, menengah dan atas, juga kelebihan dan kekurangannya. Untuk target pasar, Batiktok Indonesia mengincar pasar menengah dengan pertimbangan melihat kondisi pasar craft di Indonesia, kelas bawah dengan barang murah, tapi tidak ada inovasi produk sedangkan kelas atas, barang bagus tapi harga mahal.

“Kita ingin bikin souvenir dan craft yang rasa Indonesia tapi afforadble untuk semua kalangan, tujuan Batiktok Indonesia memang melestarikan budaya dan melestarikan lingkungan, produknya juga mencantumkan nama batik, arti bentuknya, dan filosofisnya,” ujar Vallin.

Untuk proses produksi sendiri, Batiktok Indonesia menyerahkan pada warga desa, yang memang sudah terbiasa membuat craft. Sebelumnya telah dilatih dulu dengan tujuan dapat menambah pemasukan bagi warganya.

“Mereka biasanya bikin craft yang tradisional sekali, kita ajak untuk membuat craft Indonesia yang tetap mengangkat budaya tapi bentuknya lebih kontemporer.  Sedangkan untuk lama pengerjaan, dalam satu minggu dapat menghasilkan 4 buah, pihaknya juga sedang mengusahakan dapat memproduksi lebih banyak karena untuk saat ini pihaknya belum mampu memenuhi permintaan pasar yang begitu besar," ungkapnya.

Kualitas tetap penting, lanjutnya kita bawa nama Indonesia dengan Batiktok Indonesia, kalau quality-nya malu-maluin sama saja malu-maluin negara.

Dijelaskannya, marketing produk sendiri dilakukan melalui teman-teman dekat, dosen, dan teman yang akan sekolah ke luar negeri, kita titip beberapa produk, pesanan juga banyak datang dari beberapa negara melalui akun Facebook Batiktok Indonesia.

"Untuk pasar domestik, bulan Desember Batiktok Indonesia mendapat permintaan 300 dan untuk pasar luar negeri, sudah pernah ke Jepang, China, Malaysia dan Irlandia. Saat ini sudah ada dua seri produk yaitu seri Nakula-Sadeva dengan harga Rp 65.000 dan seri Sarasvati Rp. 230.000. Batiktok Indonesia juga menerima pesanan khusus dari pelanggan," ujarnya.

Ditambahkannya, saat ini juga sedang dikembangkan produk baru, yang memadukan ketiga unsur batiktok: bambu, batik dan batok. [kompas.com]

Add new comment